Analisis Yuridis Penggunaan Akta Perjanjian Pra Perceraian sebagai Alat Bukti Pengadilan

Authors

  • Nabila Aida Farhana Lubdin Universitas Sebelas Maret
  • Arief Suryono Universitas Sebelas Maret

DOI:

https://doi.org/10.62383/desentralisasi.v3i1.1564

Keywords:

Default Divorce Judgment, Evidence, Legal Certainty, Pre-Divorce Agreement Deed, Religious Court Decision

Abstract

Divorce gives rise to various legal consequences relating to the status of the parties, marital property, and the rights and obligations toward children, thereby requiring a legal mechanism that ensures legal certainty, justice, and legal protection. In practice, the parties often express their intention to divorce in the form of a Pre-Divorce Agreement Deed drawn up before a notary. This study aims to analyze the legal standing and evidentiary strength of a Pre-Divorce Agreement Deed as evidence in divorce cases decided by default judgment (verstek). The research employs a normative juridical method with a statutory approach and a case approach, focusing on the Decision of the Ngawi Religious Court Number 425/Pdt.G/2023, through a literature review of primary and secondary legal materials. The findings indicate that a Pre-Divorce Agreement Deed executed in the form of a notarial deed constitutes an authentic deed with perfect evidentiary value as written evidence in divorce proceedings. Although it cannot directly result in the dissolution of marriage, the deed is relevant to prove the existence of an agreement between the parties and the condition of a marital relationship that has irretrievably broken down. In cases decided by default judgment, the deed becomes an important basis for judicial consideration in granting the divorce petition. The implications of this study emphasize that a Pre-Divorce Agreement Deed may be lawfully and proportionately used as evidence to support the proof of grounds for divorce and to realize legal certainty in judicial proceedings.

Downloads

Download data is not yet available.

References

April, N., & Waluyo, B. (2020). Sahnya perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Jurnal Media Komunikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 2(1), 193–199. https://doi.org/10.23887/jmpppkn.v2i1.135

Fa’adillah, D. (2025). Analisis tinjauan tentang peran dan tanggung jawab notaris dalam pembuatan akta perjanjian. 1(1), 19–30.

Fauzan, S., Rinaldi, P., Anggrainy, L. M., Malva, C. L., Sari, T. D., Alvi, M., & Fakultas, P. (2025). Hukum positivisme: Analisis pemikiran Hans Kelsen tentang grundnorm. 1–14. https://doi.org/10.11111/nusantara.xxxxxxx

Fauziannor, A., Rahman, M. A., Syaugi, A., Ilham, M. I., Islam, U., & Antasari, N. (2025). Perbandingan kekuatan pembuktian antara akta otentik dan akta di bawah tangan dalam sengketa perdata. 1963–1975. https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i2.1198

Gayo, M. F., & Sugiyono, H. (2021). Penerapan asas pacta sunt servanda dalam perjanjian sewa menyewa ruang usaha. 8(3), 245–254.

Handriani, A., & Mulyanto, E. (2021). Kepastian hukum terkait pentingnya melakukan perjanjian tertulis dalam bertransaksi. Pamulang Law Review, 4(1), 1–10. https://doi.org/10.32493/palrev.v4i1.12787

Hotta, A. Y. (2025). Pemahaman terhadap asas kepastian hukum melalui konstruksi penalaran positivisme hukum. Jurnal Hukum Dehasen, 1(1), 2.

Ivana, R., Cahyaningsih, D. T., et al. (2020). Dasar pertimbangan hakim terhadap putusan perceraian dengan pemberian hak asuh anak kepada bapak. 8(2), 295–302. https://doi.org/10.20961/privat.v8i2.48423

Laily, K., Zahra, A., Fadwa, M., Maulidian, S. N., Silvia, S., & Asyifa, F. A. (2024). Relevansi kepentingan alat-alat bukti dalam proses penyelesaian hukum perdata. 8(1), 95–104. https://doi.org/10.56301/juris.v8i1.1185

Marzuki, P. M. (2021). Penelitian hukum (Edisi revisi). Prenamedia Group.

Mertokusumo, S. (2005). Mengenai hukum: Suatu pengantar.

Moechthar, O. (2024). Hukum kenotariatan: Teknik pembuatan akta notaris dan PPAT. Prenada Media.

Novany, N., & Putra, M. F. M. (2023). Akibat hukum perjanjian perkawinan yang dibuat pasca perkawinan yang tidak diumumkan terhadap pihak ketiga. 5(1), 20–39. https://doi.org/10.22437/rr.v5i1.21235

Nugraheni, A. S. C., C, D. T., & Luthfiyah, Z. (2013). Komparasi hak asuh dan hak nafkah anak dalam putusan perceraian di pengadilan negeri dan pengadilan agama Kota Surakarta. 2(3), 61–70. https://doi.org/10.20961/yustisia.v2i3.10158

Pian, H. (2021). Pertimbangan hakim terhadap putusan verstek pada perkara perceraian perspektif hukum Islam dan hukum positif Indonesia.

Pintoko, P. B. F. (2021). Pertanggungjawaban notaris/PPAT sebagai intellectual dader di bidang perpajakan dalam melaksanakan tugas jabatan. Jurnal Education and Development, 9(4), 148–152.

Purba, H. (2022). Hukum perikatan dan perjanjian. Sinar Grafika.

Putra, V. W. (2021). Perlindungan hukum pihak yang beritikad baik dalam tahap prakontraktual. Universitas Jambi.

Putrayasa, K., Ardhya, S. N., & Dantes, K. F. (2022). Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 terkait putusan perceraian tanpa akta perkawinan di Pengadilan Negeri Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 5(1), 4. https://doi.org/10.23887/jatayu.v5i1.45942

Rahardjo, S. (2006). Membedah hukum progresif. Kompas.

Rahardjo, S. (2012). Ilmu hukum. Citra Aditya Bakti.

Ramadhan, M. S., Putri, V. R., & Yuningsih, H. (2024). Signifikansi alat bukti tertulis sebagai pertimbangan hakim dalam memutus kasus perceraian. 17(2), 191–208. https://doi.org/10.29123/jy/v17i2.634

Savana, F. M. (2024). Kedudukan hukum akta perjanjian kawin dibuat di notaris dalam pembagian harta bersama setelah terjadi perceraian.

Septianingsih, K. A., Budiartha, I. N. P., & Dewi, A. A. S. L. (2020). Kekuatan alat bukti akta otentik dalam pembuktian perkara perdata. Jurnal Analogi Hukum, 2(3), 336–340. https://doi.org/10.22225/ah.2.3.2584.336-340

Seputra, H. R., & Suyatno, S. (2024). Kekuasaan sebagai dasar legitimasi hukum dalam pemikiran filsafat hukum. Al-Mikraj: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 5(1), 1. https://doi.org/10.37680/almikraj.v5i01.6234

Soetojo, P. R. (1988). Pluralisme dalam perundang-undangan perkawinan di Indonesia. Airlangga University Press.

Subekti. (1991). Hukum perjanjian. PT Intermasa.

Tarigan, R. S. (2024). Menuju negara hukum yang berkeadilan. Ruang Karya Bersama.

Downloads

Published

2026-02-28

How to Cite

Nabila Aida Farhana Lubdin, & Arief Suryono. (2026). Analisis Yuridis Penggunaan Akta Perjanjian Pra Perceraian sebagai Alat Bukti Pengadilan. Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, Dan Pemerintahan, 3(1), 160–170. https://doi.org/10.62383/desentralisasi.v3i1.1564