Penegakan Hukum Pidana terhadap Penanganan Gelandangan dan Pengemis di Tempat Umum

Studi Komparatif KUHP Lama dan Baru Berdasarkan Putusan PN Kab. Semarang No.145/Pid.C/PN UNR

Authors

  • Gunawan Widjaja Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
  • Songga Aurora Abadi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
  • Alam Anbari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.62383/majelis.v2i3.975

Keywords:

Homeless, Beggars, Article 425, Law Enforcement, Social Rehabilitation

Abstract

The phenomenon of homelessness and begging in public places remains a complex social problem and has an impact on public disclosure and legal norms. The main problem in this study is how the criminal law against homelessness and begging in public places, and how the calculation of its provisions in the old Criminal Code and the new Criminal Code based on Law Number 1 of 2023. This study uses a normative juridical method with a regulatory-statutory approach and literature study. In the old Criminal Code, the act of begging is regulated in Article 504 which threatens imprisonment for anyone who begs in public. Meanwhile, the new Criminal Code regulates similar acts in Article 425 which no longer uses the term "begging" explicitly, but regulates the prohibition against the repeated exploitation of certain activities in public places that disturb the community. The results of the study show that despite substantial continuity, the new Criminal Code tends to use a more humanistic approach and emphasizes social rehabilitation. Law enforcement against homelessness and begging still faces various obstacles such as low public reporting, limited supervision by officials, and minimal rehabilitation facilities. Therefore, the main conclusion of this study is that a repressive approach alone is insufficiently effective. An integrated legal strategy is needed, combining penal and non-penal approaches, with the active involvement of the government, the community, and social institutions.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Fadhillah, N. (2020). Penegakan hukum terhadap pelanggaran perda tentang gelandangan dan pengemis. Jurnal Sosial Politik, 9(3), 45–52.

Hadisoeprapto, H. (1996). Pengantar tata hukum Indonesia (Edisi ke-4). Yogyakarta: Liberty.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (tanpa tahun). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kitab Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Maryatun. (2022). Upaya penanganan permasalahan gelandangan dan pengemis. Sosio Informa: Kajian Permasalahan Sosial dan Usaha Kesejahteraan Sosial, 8(1).

Negara Republik Indonesia beserta penjelasannya. (2003). Bandung: Citra Umbara.

Nuraini, R. (2022). Peran dinas sosial dalam menangani gelandangan dan pengemis di Kota Bandung. Jurnal Ilmu Sosial Humaniora, 6(2), 110–120.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis.

Rahmadanita, A. (2019). Pembinaan ketentraman dan ketertiban umum (studi kasus gelandangan dan pengemis). Jurnal Tatapamong, 1(2).

Schaffmeister, N., Keijzer, E., & Sutorius. (1995). Hukum pidana. Yogyakarta: Liberty.

Soesilo, R. (1996). KUHP dan penjelasannya. Bogor: Politeia.

Syafitri, D., & Hanafiah, R. (2023). Analisis hukum terhadap penanganan anak jalanan di Kota Medan. Jurnal Hukum dan Masyarakat, 5(1), 77–88.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Bab III Pasal 13.

Utrecht. (1994). Rangkaian sari kuliah hukum pidana I. Surabaya: Pustaka Tinta Mas.

Downloads

Published

2025-07-09

How to Cite

Gunawan Widjaja, Songga Aurora Abadi, & Alam Anbari. (2025). Penegakan Hukum Pidana terhadap Penanganan Gelandangan dan Pengemis di Tempat Umum: Studi Komparatif KUHP Lama dan Baru Berdasarkan Putusan PN Kab. Semarang No.145/Pid.C/PN UNR. Majelis: Jurnal Hukum Indonesia, 2(3), 21–30. https://doi.org/10.62383/majelis.v2i3.975

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.